Sepuluh
tahun yang lalu, aku lulus dari sekolah dasar. Aku masih ingat saat itu, aku
mendapat peringkat keempat. Aku memang murid yang biasa saja. Aku pun masih
ingat murid yang mendapat peringkat pertama bernama Salsa. Entah dimana dia
sekarang. Yang aku kenal dulu, dia adalah orang yang pendiam dan lugu.
Memori
masa laluku terputar kembali setelah membuka album foto semasa masih sekolah
dasar. Wajah mereka samar – samar ku ingat. Mungkin yang terpisah jauh dengan
mereka adalah aku. Saat lulus SMA, aku melanjutkan sekolahku ke Study Mesir.
Mungkin tak ada lagi teman semasa SD yang mengenaliku saat ini. Postur tubuh
dan wajahku berubah drastis setelah pindah ke Mesir bersama pamanku.
Teringat
kembali semasa di sekolah dasar, teman – teman sering memanggilku ‘anak
bawang’. Itu karena tubuhku kecil mungil dan selalu terbelakang. Lain dari itu,
aku juga dipanggil ‘si cabi’, karena pipiku yang mungkin kembung dan bulat.
Ku
buka sebuah kotak besar yang ada di bawah tempat tidurku. Debu – debu pun
berterbangan. Mungkin karena kamarku jarang dihuni setelah aku pindah ke Mesir
untuk sementara. Tak terasa, lima tahun berada di Negri Piramid itu sudah ku
lewati.
Ku
ambil buku bersampul merah yang terselimuti oleh debu. Mulutku tersenyum
setelah membersihkan debu – debu yang tebal di sekelilingnya.
Buku Diary punya Fitri Regina Putri.
Jangan dibaca, kecuali dapat ijin
dari pemiliknya!
Tulisan
‘ceker ayam’ ketika aku masih duduk di kelas empat SD sungguh membuatku tertawa
sendiri. Aku kira, buku harian ini sudah dibuang oleh ibu. Tapi ternyata masih
tersimpan walau dalam kondisi penuh usang. Ku harap, ibu atau adikku tidak
membuka – buka setiap lembaran buku ini.
Tertawa
– tertawa kecil dari mulutku. Setiap peristiwa yang terjadi di masa lalu itu
teringat kembali di otakku. Sungguh kehidupan itu penuh warna.
Kali
ini, aku berniat untuk berkunjung ke sekolah dasarku yang dulu. Aku masih ingat
letak jalan itu. Jln.Kotaraya No.4, di pinggir jalan raya besar, dan tepat di
sebelah rumah Maul, teman semasa SD-ku dulu. Aku tak tahu apakah jalannya sudah
berubah atau belum.
Hari
ini adalah hari libur. Mungkin sekolah dalam keadaan sepi. Segera ku bangkit
dari posisi dudukku dan pergi keluar untuk berkunjung ke sekolah lamaku.
Syukurlah aku masih hafal jalan – jalan yang harus ku lewati.
*
* *
Ternyata
jalannya masih belum berubah. Hanya saja bangunan masjid Jami yang dulu
biasanya aku lewati bersama teman – teman itu terlihat menjadi lebih mewah dan
kokoh. Pohon
jambu bol yang sangat besar, yang sering menjadi tempat berteduhku dengan teman
– teman semasa dulu itu masih ada. Aku jadi ingat peristiwa ketika ketika dulu,
pemilik pohon itu panen. Aku dan teman – teman mengambil satu per satu buah
jambu dari karung yang berisi penuh. Aku, Rahmi, Nisa, dan Ani. Lalu kami
berlari sambil tertawa lepas. Anak – anak nakal! Kejadian kelas lima SD itu
membuatku cengengesan sendiri. Kini, aku tak tahu sobat – sobat terdekatku itu
ada dimana.
Masih
peristiwa di sekitar pohon jambu bol itu. Kali ini, kelas enam SD. Yadi, teman
yang paling jahil itu berulang tahun. Aku dan teman – teman melemparinya dengan
lima butir telur sambil bernyanyi Happy Birthday.
Sungguh peristiwa yang indah dikenang.
Pedagang
warung langgananku dan teman – teman semasa SD itu masih buka. Aku sering
memanggil pemilik warung itu dengan sebutan ‘Abang Rana’. Aku ingat saat dulu,
bang Rana masih bujangan dan belum menikah. Tak ada salahnya jika aku
mengunjungi warung itu lagi, sambil membeli air mineral.
“Hai,
bang Rana! Masih inget aku gak, nih?”. Sapaku pada bang Rana tang sedang
menjaga warung.
Bang
Rana terlihat sedang berfikir mengingat – ingat wajahku.
“Ah,
si abang! Masa lupa? Keluaran SD tahun 2002 nih, bang!”. Seruku. “Si anak
bawang.”. ku ucapkan panggilanku saat dulu. Bang Rana terlihat kaget dan
melotot ke arahku.
“Oh, ini neng Fitri?!”. Ucap bang Rana dengan
kagetnya.
“Nah!
Iya, bang!”.
“Ya
ampun! Sekarang udah gede, yah! Udah cantik lagi!”.
“Si
abang bisa aja!”.
“Iya
bener, neng!”. Kata bang Rana sambil menepuk bahuku. “Sekarang udah sekolah
dimana? Atau udah kerja?”.
“Baru
tamat Sudy di Mesir, bang.”.
“Wah!
Yang bener, nih?! Hebat dong, udah bisa keluar negri!”.
“Alhamdulillah,
bang!”. Aku dan bang Rana tertawa – tertawa kecil. “Si abang udah nikah
belum?”. Tanyaku.
“Udah
dong, neng! Malah udah lama. Udah hampir mau Sembilan tahun.”.
“Wah,
selamat yah, bang!”.
“Iya,
neng. Ngomong – ngomong, neng Fitri mau kemana?”.
“Mau
ke sekolah SD, bang.”.
“Oh..
Mau ngapain, neng?”.
“Mau
berkunjung aja, bang. Udah lama gak kesini.”.
“Hmm..
Kangen yah, neng?”.
“Hehe..
Iya, bang. Oh iya, beli air mineralnya satu yah bang.”. Ku ambil air mineral
yang tersedia berjejer. “Nih, uangnya, bang.”. ku berikan uang pas. Kebetulan
aku mengetahui harga air mineral itu.
“Iya,
neng. Makasih ya!”. Jawab bang Rana sambil mengambil uang dariku.
“Aku
ke sekolah dulu ya, bang.”.
“Iya,
neng.”.
Segera
ku berjalan menuju ke sekolah. Ke telusuri jalan – jalan kecil yang berarah ke
samping sekolah. Aku malas jika harus lewat jalan raya. Aku kaget saat melihat
rumah Maul yang sudah kosong dan hancur. Semprotan pilok – pilok yang membentuk
coretan identitas angka itu melekat di sekeliling tembok. Jendela kacanya sudah
pecah seluruhnya. Sungguh terlihat menyeramkan. Sangat – sangat berbeda dengan
rumah Maul yang dulu.
Lahan
di samping kanan sekolah yang dulu berupa hutan, kuni berubah menjadi gedung
bertingkat. Seingatku, aku sering masuk ke hutan itu untuk mengambil bola voli yang
nyasar dari sekolahku, dulu. Banyak gosip yang beredar juga kalau banyak hantu
di hutan itu. HAHA.. gosip lalu..
Satu
per satu tempat yang memberi banyak kesan itu sudah berubah. Gerbang sekolahku
yang dulu hanya berupa puing kayu, kini telah menjadi pagar besi yang tinggi.
Sekolah yang dulu bercat hijau itu, kini berubah menjadi cat abu – abu.
Terlihat lebih modern.
Sekolah
ini terasa sepi. Berbeda dengan keadaan ketika aku masih sekolah. Dulu, jika
hari libur tiba, sekolah selalu ramai, banyak teman – teman yang bermain bola
voli. Alasan mereka berlibur di sekolah karena tak mengisi waktu libur dengan
berkunjung ke suatu tempat pariwisata. Namun, bermain voli bersama teman –
teman juga tidak kalah serunya.
Ku
buka gerbang sekolah yang tidak terkunci dan masuk kedalamnya. Suasananya
terasa sejuk. Banyak tanaman hijau yang berdiri disekeliling lapangan. Ku lihat
kelas – kelas yang berada dalam keadaan kosong itu. Kini fasilitas di kelasnya
sudah bagus dan lengkap. Ku berjalan menuju tempat duduk di depan salah satu
kelas, dan duduk termenung memandang sekeliling sekolahku. Sepi dan sunyi
terasa. Dedaunan berjatuhan dari pohon besar di ujung sekolah. Aku tak melihat
satu orang pun di sini. Aku jadi teringat kembali pada Mang Opik, penjaga
sekolahku saat dulu. Aku tak tahu apakah dia masih bekerja disini atau tidak.
Keakraban aku dan teman – teman pada mang Opik sangat sangatlah seru. Bercanda
tawa bersama, sampai bermain voli bersama dengan mang Opik. Masa – masa indah
:-)
Terlihat
ada banyak orang yang datang ke sekolah. Mereka saling tepuk bahu dan tertawa –
tawa. Namun mereka seakan berhenti tertawa saat melihat aku yang duduk sendiri.
Aku hanya memberikan senyumanku. Namun aku merasa pernah bertemu dengan orang –
orang itu. Lalu mereka mendekat ke arahku.
“Ini
alumni bukan?”. Tanya salah seorang diantara mereka.
“Iya.
Alumni tahun 2002.”. jawabku.
Tiba
– tiba orang itu berteriak memanggil teman – temannya yang lain.
“Hei!
Ini ada alumni tahun 2002!”.
Orang
– orang yang sedang berkumpul di dekat gerbang itu langsung berlarian ke
dekatku.
“Namanya
siapa? Kita kan juga alumni tahun 2002.”. kata seorang cowok yang berpostur
tubuh tinggi.
Aku
kaget ketika mereka berkata kalau mereka juga alumni tahun 2002. Itu berarti
mereka adalah teman – teman semasa SD ku dahulu.
“Aku
Fitri. Masih ingatkah kalian?”.
“Hah?!
Fitri cabi?!”.
“Iya!”.
Jawabku dengan tersenyum ceria bisa berjumpa lagi dengan mereka.
Sungguh aku
tak mengenali wajah - wajah manis mereka. Satu per satu dari mereka memelukku
dan berkata kalau aku berubah sangat drastis. Ternyata hari ini adalah hari
reuni alumni angkatan 2002. Sungguh suatu kebetulan yang menggembirakan. Teman
– temanku yang dulu itu masih lengkap.
Kami
berbagi pengalaman kali ini. Aku sangat senang mendengar mereka semua sudah
sukses. Ada yang sudah menikah, ada pula yang masih berpacaran, bahkan masih
ada yang single. Ada yang sudah menjadi guru, dokter, insinyur, perawat,
pengusaha, dll. Mereka semua tampak bahagia. Sungguh aku tak mengira mereka
akan mengadakan reuni seperti ini.
Setelah
itu, kami masih berlanjut dengan mengingat – ingat peristiwa indah dan sedih di
masa lalu, saat kami bersama. Sayangnya, guru – guru yang dulu mengajar, kini
banyak yang sudah pindah, berhenti, dan pensiun. Tak tersisa lagi guru yang
mengenali sosok kami semua yang terkenal heboh dan kompak.
Melihat
ada bola voli menganggur, kami pun bermain voli bersama lagi seperti waktu
dulu. Masa indah yang terulang kembali. Tak menyesal aku sudah menunggu lama
disini. Meski awalnya aku sendirian, namun akhirnya ada pertemuan dengan orang
– orang yang aku harapkan. Ku abadikan peristiwa berkesan ini dengan berfoto
bersama. Sungguh tak akan terlupakan.
URL : https://mimorbombom.blogspot.com/2013/03/perjalanan-ke-sekolah-lama.html